Analisis Tren Prevalensi Bahan Berbahaya dan Resiliensi Kader dalam Program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas di Cilacap
DOI:
https://doi.org/10.54384/5sd8y957Kata Kunci:
Keamanan Pangan, Bahan Berbahaya, PPABK, Pasar Tradisional, CilacapAbstrak
Permasalahan keamanan pangan di pasar tradisional masih dihadapkan pada tantangan sistemik terkait penyalahgunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil, khususnya pada wilayah pesisir dengan rantai distribusi hasil laut yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren prevalensi bahan berbahaya dan mengevaluasi efektivitas Program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas (PPABK) di Kabupaten Cilacap, dengan lokus utama di Pasar Tanjungsari. Metodologi yang digunakan adalah desain studi deskriptif analitis dengan pendekatan intervensi komunitas pada periode Mei hingga Juli 2025. Data primer diperoleh melalui sampling insidental (n=39) dan pengujian menggunakan rapid test kit yang telah terverifikasi oleh Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN). Temuan penelitian menunjukkan bahwa data pra-intervensi mencatat prevalensi bahan berbahaya yang tinggi sebesar 40,6% di wilayah Cilacap. Selama proses intervensi, terjadi fenomena detection paradox di mana prevalensi meningkat dari 16,7% menjadi 40,0% akibat peningkatan kapasitas kader dalam melakukan targeted sampling. Namun, pada tahap monitoring dan evaluasi akhir, prevalensi menurun drastis hingga mencapai 0%. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan resiliensi kader pasar sebagai pengawas internal efektif dalam mengubah perilaku pedagang dan menciptakan kemandirian pengawasan. Rekomendasi kebijakan yang diusulkan adalah replikasi model PPABK di pasar tradisional lainnya dengan dukungan integrasi anggaran daerah untuk ketersediaan sarana pengujian mandiri secara berkelanjutan.
Unduhan
Referensi
Arisanti, R. R., Indriani, C., & Wilopo, S. A. (2018). Kontribusi agen dan faktor penyebab kejadian luar biasa keracunan pangan di Indonesia: Kajian sistematis (Contribution of agents and factors causing foodborne outbreak in Indonesia: A systematic review). Berita Kedokteran Masyarakat, 34(3), 99–106. https://doi.org/10.22146/bkm.33852
Badan Pusat Statistik Kabupaten Cilacap. (2024). Statistik Perikanan Laut yang Dijual di Tempat Pelelangan Ikan Cilacap 2023 (Katalog: 5402004.3301). Cilacap: BPS Kabupaten Cilacap.
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2023). Cold storage. Retrieved on 13 Juny 2026, from https://www.fao.org/flw-in-fish-value-chains/value-chain/processing-storage/cold-storage/en/
Food and Agriculture Organization of the United Nations, & World Health Organization. (2016). Risk communication applied to food safety handbook. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations & World Health Organization.
Grace, D. (2015). Food safety in low and middle incom countries. International Journal of Environmental Research and Public Health, 12(9), 10490–10507. https://doi.org/10.3390/ijerph120910490
Green, L. W., & Kreuter, M. W. (2005). Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach (4th ed.). New York: McGraw-Hill.
Haetami, K., Karlina, L., & Junianto, J. (2024). Formalin content test in samples of salted fish and fresh fish sold in traditional markets. PharmaCine: Journal of Pharmacy, Medical and Health Science, 5(1), 48–54. https://doi.org/10.35706/pc.v5i1.11339
Kaur, G., Tripathy, S., & Rout, S. (2024). Formalin adulteration in fish: A state-of-the-art review on its prevalence, detection advancements, and affordable device innovations. Trends in Food Science & Technology, 153, 104708. https://doi.org/10.1016/j.tifs.2024.104708
Mahdi, C. (2013). Formalin, borax and rhodamine quick detection instruments discovered by researcher and education staff of Brawijaya University produced by Biochem Laboratory. VOK@SINDO: Jurnal Ilmu-Ilmu Terapan dan Hasil Karya Nyata, 1(1), 1–6.
Martini, M., Fauzi, M., & Nuryanto, N. (2025). Detection of formalin, borax, and pathogenic bacteria in processed meat-based foods and their implications for antimicrobial resistance (AMR). BIO Web of Conferences, 193, 00073. https://doi.org/10.1051/bioconf/202519300073
Mehta, N. K., Vaishnav, A., & Priyadarshini, M. B. (2024). Formaldehyde contamination in seafood industry: An update on detection methods and legislations. Environmental Science and Pollution Research, 31, 54381-54401. https://doi.org/10.1007/s11356-024-34792-8
Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Jakarta: Sekretariat Negara
Saparinto, C., & Hidayati, D. (2006). Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta: Kanisius.
Tenny, S., & Hoffman, M. R. (2023). Prevalence. In StatPearls. Treasure Island, FL: StatPearls Publishing.
World Health Organization. (2015). WHO estimates of the global burden of foodborne diseases. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2022). WHO global strategy for food safety 2022–2030: Towards stronger food safety systems and global cooperation. Geneva: World Health Organization.
Yiannas, F. (2009). Food Safety Culture: Creating A Behavior-based Food Safety Management System. New York: Springer.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Agnes Dwi Safarina

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.





